Konnichiwa Minna - san :)
Hari ini icha mau ngepost tentang materi PMR
Di blog ica, gak cuma tentang jepang..
Tapi tentang apapunnn :D
Tentang K - Pop juga nanti icha post bagi penggemar K-Popers sejati...
Nahhh sekaranggg ,yukk kita memperdalam ilmu kesehatan ^^
DASAR PERTOLONGAN PERTAMA
Pengertian
Pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit / cidera / kecelakaan yang memerlukan medis dasar.
Medis Dasar adalah tindakan pertolonga berdasarkan ilmu kedokteran yang dapat memiliki oleh orang awam atau awam terlatih.
Tujuan
1. Menyelamatkan jiwa penderita.
2. Mencegah cacat.
3. Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan.
Dasar Hukum
Pasal 531 KUHP
Sanksi kurungan penjara 3 bulan / denda uang sebanyak Rp. 4.500,-
Jika korban yang ditolong itu mati diancam pasal KUHP 45, 165, 187, 304s, 478, 525, 566.
Pasal 322 KUHP
Sanksi pidana penjara 9 bulan / denda sebanyak – banyaknya Rp. 9.000,-
Kewajiban Pelaku Pertolongan Pertama
1. Menjaga keselamatan.
2. Menjangkau penderita.
3. Mengenali dan mengatasi masalah.
4. Meminta bantuan.
5. Pertolongan cepat dan tepat.
6. Membantu pelaku lain.
7. Menjaga rahasia medis.
8. Komunikatif.
9. Transportasi korban.
Kualifikasi pelaku Pertolongan Pertama
1. Jujur dan bertanggung jawab.
2. Professional.
3. Kematangan emosi.
4. Bersosialisasi.
5. Kemampuan nyata dan terukur.
6. Kondisi fisik baik.
7. Bangga.
Persetujuan tindakan pertolongan
Dua bentuk persetujuan
· Persetujuan yang dianggap diberikan tersirat ( Implied consent ).
· Persetujuan yang dinyatakan ( Expressed consent ).
BANTUAN HIDUP DASAR ( BHD )
Sistem pernafasan dan system sirkulasi merupakan system tubuh yang utama. Dan apabila salah satu atau keduanya mengalami gangguan maka akan menyebabkan seseorang mengalami kematian.
Sistem pernafasan, memasok oksige ketubuh sesuai kebutuhan, selain itu system ini juga membuang karbon dioksida yang tidak lagi digunakan oleh tubuh.
Sistem peredaran darah, bertanggung jawab memberikan pasokan oksigen serta nutrisi keseluruh jaringan tubuh, dan bertanggung jawab juga untuk membuang sisa makanan dari jaringan tubuh.
MATI
1. Mati BiologisKematian sel, karena terganggunya pasokan oksigen dan zat – zat makanan ke sel – sel yang menyusun jaringan, sehingga akhirnya sel tersebut akan mati dan jaringan itu akan terganggu. Mati biologis sifatnya menetap dan tidak bisa pulih lagi. Masing – masing sel dan jaringan memiliki daya tahan yang berbeda – beda sebelum mati bilogis. Pada manusia kematian paling cepat terjadi yaitu pada sel otak. Biasanya terjadi dalam waktu 8-10 menit dari henti jantung.
Tanda – tanda pasti mati
· 20 – 30 menit setelah kematian.
· Darah akan terkumpul dibagian yang paling rendah dari tubuh karena gaya gravitasi.
· Tampak warna kebiruan pada kulit.
· Wajah tampak pucat.
Kaku mayat
· 1- 2 jam setelah kematian.
· Kaku pada bagia tubuh dan anggota gerak.
Pembusukkan
· 6-12 jam setelah kematian.
· Bau yang tidak sedap dan biasanya tubuh sudah membengkak.
Tanda lain : Cidera mematikan.
2. Mati Klinis
Tidak mendapati nafas dan denyut nadi sewaktu petugas pertolongan pertama melakukan pemeriksaan pada korban. Artinya system pernafasan dan system sirkulasi terhenti. Korban mempunyai kesempatan hidup dalam waktu 4 – 6 menit dengan dilakukan Resusitasi Jantung Paru, dengan syarat tidak ada kerusakan pada otak.
Resusitasi Jantung Paru
· Tidak ada respon.
· Tidak ada nafas.
· Tidak ada nadi.
BANTUAN SIRKULASI
Pijatan jantung luar, merupakan tindakan yang paling penting pada bantuan sirkulasi. Tindakan ini dilakukan megingat sebagian besar jantung terletak diantara tulang dada dan tulang punggung, sehingga penekanan dari luar dapat menyebabkan terjadinya efek pompa pada jantung yang dinilai cukup untuk mengatur peredaran darah minimal pada keadaan mati klinis.
Secara umum dapat dikatakan bahwa bila jantung berhenti berdenyut maka pernafasan akan langsung mengikutinya. Namun tidak berlaku sebaliknya.
Resusitasi Jantung Paru ( RJP )
Pada orang dewasa RJP dilakukan :
Ø Penolong 1 orang : 15x pijatan + 2x tiupan nafas / siklus, dan dilakukan sebanyak 4 siklus.
Ø Penolong 2 orang : 5x pijatan + 1x tiupan nafas / siklus, dan dilakukan sebanyak 12 siklus.
Pada anak dan bayi RJP dilakukan :
Ø Penoloang 1 orang : 5x pijatan + 1x tiupan nafas / siklus. Dan dilakukan sebanyak 4 siklus.
Ø Penolong 2 orang : dilakukan sebanyak 12 siklus.
Kedalaman
Dewasa : 4-5 cm.
Anak : 3-4 cm.
Bayi : 1,5-2,5 cm.
Kecepatan
Dewasa : 80x/ menit.
Anak : 100x/ menit.
Bayi : 120x/ menit.
Kekuatan
Dewasa : Dua lengan.
Anak : Satu lengan.
Bayi : Dua jari.
Beberapa konflikasi yang terjadi pada saat melakukan RJP
1. Patah tulang dada dan tulang iga.
2. Bocornya paru – paru ( Pnemotoraks ).
3. Pendarahan dalam pada paru – paru ( Hemotoraks ) atau rongga dada.
4. Luka dan memar pada paru – paru.
5. Robekan pada hati.
Kapan RJP dapat dihentikan ?
RJP dapat dihentikan apabila :
1. Penderita pulih kembali.
2. Penolong kelelahan.
3. Datangnya tim medis.
4. Adanya tanda pasti mati.
Kesalahan pada saat RJP
1. Tidak berbaring pada bidang yang keras, akibatnya RJP kurang efektif.
2. Penderita tidak horizontal, akibatnya jumlah darah ke otak berkurang.
3. ADTD kurang baik, akibatnya jalan nafas terganggu.
4. Kebocoran pada saat melakukan pernafasan buatan, akibatnya nafas buatan tidak efektif.
5. Lubang hidung kurang tertutup rapat dan mulut penderita kurang terbuka saat nafas buatan, akibatnya pernafasan buatan tidak efektif.
6. Letak tangan kurang tepat dan arah tekanan kurang baik, akibatnya patah tulang dan luka pada paru – paru.
7. Tekanan terlalu cepat / terlalu dalam, akibatnya jumlah darah yang dialirkan kurang.
8. Rasio RJP dan pernafasan buatan kurang baik, akibatnya oksigenisasi darah kurang.
RESUSITASI NAFAS
· Tidak ada respon.
· Tidak ada nafas.
Macam – macam cara pernafasan buatan :
1. Mulut kemulut ( Mouth of mouth )
2. Mulut kehidung ( Mouth of nouse )
3. Mulut kemasker resusitasi.
4. Holger Nielsen.
5. Cara Silvester.
A. Mulut kemulut
Cara dimana penolong memasukkan udara kedalam paru – paru korban melalui mulut korban.
Keuntungan :
1. Sangat baik, karean korban tetap dalam keadaan telentang.
2. Dapat segera diketahui apakah usaha penolong berhasil atau tidak ?
3. Udara yang dihembuskan oleh penolong cukup mengandung zat asam.
4. Jalan nafas terbuka dengan baik.
5. Tidak melelahkan.
6. Aman dilakukan.
Kerugian :
Kadang ada perasaan kurang enak secara pyskis.
B. Mulut ke hidung
Cara dimana penolong memasukkan udara kedalam paru – paru korban melalui hidung korban.
Tekhnik pemberian pernafasan buatan dengan cara MTM/MTN
· Nilai respon penderita.
· Buka jalan nafas.
· Periksa nafas dengan LDR selama 3 – 5 detik.
· Jika penderita tidak bernafas :
- Posisikan mulut penolong sedemikian rupa sehingga seluruh mulut/hidung tertutup rapat, tidak ada udara yang bocor.
- Jepitlah dengan baik kedua cuping hidung penderita sehingga udara tidak bocor dan jangan menariknya.
· Berikan 2x bantuan nafas awal. Tiupan harus merata dan jumlahnya cukup.
Bila udara tidak masuk maka ada kemungkinan adanya sumbatan jalan nafas, sehingga harus kembali ketindakan Airway Control.
· Periksa nadaikarotis selama 5 – 10 detik.
Frekuensi pemberian pernafasan buatan
Dewasa : 10 – 12x/ menit, masing-masing 1,5-2 detik.
Anak : 20x/ menit, masing-masing 1-1,5 detik.
Bayi : > 20x/ menit, masing-amasing 1-1,5 detik.
Bayi baru lahir : 40x/ menit, masing-masing 1-1,5 detik.
Beberapa tanda – tanda pernafasan
1. Pernafasan adekuat ( mencukupi )
· Dada dan perut naik turun seirama dangan pernafasan.
· Udara terdengan dan terasa saat keluar dari mulut / hidung.
· Penderita tampak nyaman.
· Frekuensinya cukup.
2. Pernafasan kurang adekuat
· Gerakan dada kurang baik.
· Ada suara nafas tambahan.
· Kerja otot bantu nafas.
· Sianosis.
· Frekuensi +/-.
· Perubahan status mental.
3. Tidak bernafas
· Tidak ada gerakan dada atau perut.
· Tidak terdengar aliran udara melalui mulut / hidung.
· Tidak terasa hembusan nafas dari mulut / hidung.
Holger Nielsen
· Bersihkan hidung, mulut dan tenggorokkan korban.
· Korban ditelungtupkan dengan kedua telapak tangan diletakan dibawah pipi sebagai bantalan.
· Penolong berlutut dengan salah satu lutut kira – kira 15 cm dari sebelah telinga korban dan kaki yang lainnya diletakan 5 cm dari siku korban.
· Tekan punggung korban pada tulang belikat dengan kedua telapak tangan sambil menghitung : satu, dua, tiga.
· Pada hitungan keempat tekanan dilepaskan dan lengan penolong digeser ke arah lengan korban.
· Tarik lengan korban k eke arah perut penolong sambil menghitung : lima, enam, tujuh.
· Pada hitungan kedelapan, tangan penolong kembali digeser kea rah tulang belikat korban dan seterusnya sampai muncul tanda – tanda kehidupan.
Cara Silvester
· Bersihkan mulut, hidung dan tenggorokan korban.
· Longgarkan pakaian yang mengikat.
· Korban dilentangkan dengan sebuah banatal di letakan di punggungnya.
· Penolong berlutut dengan salah satu kaki disebelah atas korban menghadap kaki korban.
· Kedua siku korban disilangkan.
· Pegang kedua siku korban yang telahkeatas dadanya, tekan didadanya dengan menghitung : dua puluh satu, dua puluh dua.
· Kedua siku ditarik melewati samping kepala dan ditekankanke lantai / tanah, dengan menghitung : dua puluh satu, dua puluh dua.
· Kedua siku diturunkan melalui samping kepala dan ditekankan didadanya dengan menghitung : dua puluh satu, dua puluh dua.
· Lakuakan berulang sampai adanya tanda – tanda kehidupan.
PENGUASAAN JALAN NAFAS
Sumbatan jalan nafas sering terjadi akibat jatuhnya lidah korban yang tidak sadar / tidak respon. Karena pada penderita yang kehilangan kesadaran otot – otot akan menjadi lemas termasuk dasar lidah, yang akan jatuh kebelakang sehingga jalan nafas tertutup. Selain itu sumbatan jalan nafas juga terjadi akibat benda asing.
Tehnik / cara :
1. Angkat dagu tekan dahi
Dilakukan pada korban yang tidak mengalami cidera tulang leher / cidera tulang belakang.
2. Jaw thrust maneuver
( perasat pendorong rahang bawah )
Dilakukan pada korban yang mengalami cidera tulang leher / tulang belakang.
( perasat pendorong rahang bawah )
Dilakukan pada korban yang mengalami cidera tulang leher / tulang belakang.
Reff :
· Jangan lupa untuk memeriksa mulut korban terutama yang mengalami penurunan respon / tidak respon.
Apakah ada sumbata / suatu benda yang menyumbat saluran nafas ?
· Setelah itu periksa jalan nafas dengan membuka mulut korban menggunakan tehnik jari silang.
· Selanjutnya posisikan korban ke posisi pemulihan / posisi miring stabil.
Tujuan Posisi miring stabil
1. Mencegah terjadinya sumbatan.
2. Jika da cairan dari mulut / hidung, maka akan mengalir keluar dan mencegah supaya cairan tersebut tidak masuk ke saluran pernafasan.
Sumbatan Jalan Nafas
ü Bagian atas
ü Hidung
ü Mulut
ü Tekak / faring
ü Sampai kebagian larings
ü Bagian bawah
ü Batang tenggorok / trachea
ü Cabang tenggorok / brokhus
ü Paru – paru
ü Anak cabang tenggorok
ü Alveolus
Sumbatan jalan nafas secara umum terjadi akibat benda asing ( makanan, minuman, darah ) atau struktur anatomis ( lidah, penyempita saluran nafas, kerusakan jaringan )
Sumbatan Total
Korban kan sulit bernafas dan akhirnya akan kehilangan kesadaran
Contoh kasus : tersedak.
Sumbatan Parsial ( sebagian )
Ditandai dengan upaya untuk bernafas dan mungkin disertai bunyi nafas tambahan, seperti : mengirik, mengorok atau kumur.
Untuk sumbatan total cara mengatasinya kita kenal istilah : Heimlich maneuver ,
Tehnik ini dapat dilakukan pada korban dewasa maupun korban anak. Perasat ini juga pada dasarnya merupakan hentakan perut.
1. Heimlich maneuver pada penderita dewasa dan anak ada respon
- Penolong berdiri dibelakang korban, posisikan tanga penolong memeluk diatas perut korban melalui ketiak korban.
- Sisi genggaman tangan penolong diletakkan diatas perut korban tepat pada pertengahan antara pusar dan batas pertemuan iga kiri dan kanan.
- Letakan tangan lain penolong diatas genggaman pertama, lalu hentakan tangan penolong kearah belakag dan atas. Posisi kedua siku penolong kearah luar.
2. Heimlich maneuver pada penderita dewasa dan anak tidak respon
- Baringkan korban dalam posisi telentang.
- Upayaka memberikan bantuan pernafasan
Bila gagal upayakan perbaikan posisi dan coba kembali pemberian bantuan pernafasan.
Bila gagal lanjutkan kelangkah berikut :
- Berlututlah sedemikan rupa sehingga tungkai atas korbam diapit oleh lutu penolong, lalu letakan tumit tangan penolong sedikit diatas puast tepat pada garis tengah antara pusat dan pertemuan rusuk kiri dan kanan.
- Lakukan 5x hentakan perut kearah atas.
- Periksa mulut korban dan lakukan sapuan jari.
- Bila belum berhasil lakukan langkah 2-5 berulang – ulang sampai ada tanda tanda kehidupan.
3. Hentakan dada
Dilakukan untuk orang yang gemuk dan wanita hamil.
PROSEDUR PERTOLONGAN PERTAMA
1. Periksa keselamatan penolong, korban dan lingkungan. Apakah aman ?
2. Mekanisme kejadian ?
3. Berapa jumlah korban ?
4. Apakah anda bahaya susulan ?
5. Apakah ada saksi ?
6. Jenis kasus ( TRAUMA = oleh rudapaksa & MEDIS = Tanpa rudapaksa )
7. Gunakan APD ( Alat Pelindung Diri ) masker & sarung tangan latek
8. ( Perkenalkan diri ) Saya PMR Madya SMPN 3 Cibitung pernah belajar pertolongan pertama ingin menolong korban, Apakah di izinkan ?
Tolong hubungi 118 atau rumah sakit terdekat
9. Apakah ada pendarahan hebat ? ( periksa seluruh tubuh secara cepat )
( point 1 – 9 tanyakan pada juri )
10. Respon : awas, suara, tepuk, nyeri, tekan ( kalau ada RESPON = Korban SADAR )
11. Periksa kelainan tulang leher ( bandingkan tulang leher korban dan penolong ), apa ada kelainan ?
12. Buka jalan nafas, ANGKAT DAGU TEKAN DAHI
13. Periksa nafas ( LDR ) 3-5 detik, apakah ada nafas ?
14. Periksa nadi 5 – 10 detik, apakah ada nadi ? ( jika korban TIDAK SADAR periksa nadi KAROTIS / leher, jika SADAR periksa nadi RADIALIS / lengan ( jika semua ada = NORMAL )
15. Cek tanda vital
· Frekuensi kualitas nafas 30 detik
· Frekuensi kualitas nadi 15 detik
· Suhu dan kelembaban
· Warna kulit
· Tekanan darah / waktu pengisian kapiler
16. Cek fisik dari ujung kepala sampai kaki bandingkan kanan kiri ( selalu liat wajah korban ) lakukan dengan palpasi aukultasi dan infeksi. PERIKSA PERUBAHAN BENTUK, LUKA TERBUKA, NYERI TEKAN dan BENGKAK ( PLNB )
17. Kepala atas, kepala belakang, pelipis, dahi – PLNB
18. Mata, perubahan pupil, tanda khusus ?
19. Hidung, ada cairan, benda asing, tanda khusus ?
20. Telinga kanan kiri, ada cairan, benda asing, tanda khusus ?
21. Mulut ( sedikit dibaui ) ada cairan, benda asing, tanda khusus ?
22. Rahang atas, dan pipi – PLNB
23. Rahang bawah dan dagu – PLNB
24. Leher
a. Tulang leher
b. Dilatasi pembuluh darah
c. Batang tenggorokan
25. Ekspos / buka pakaian
26. Tulang belikat, bahu, tulang selangka
27. Dada
a. Tulang rusuk
b. Tulang dada
c. Irama pernafasan
28. Perut ( kuadran kanan atas. Kiri bawah, kanan bawah, kiri atas )
29. Lengan atas, siku, lengan bawah, pergelangan tangan – PLNB. Punggung, telapak tangan, jari tangan, sirkulasi gerak sensasi
30. Panggul ( takan dan goyang )
31. Tungkai atas, lutut, tungkai bawah, pergelangan kaki – PLNB. Punggung, telapak kaki, jari kaki sirkulasi gerak sensasi
32. Punggung
33. Beri laporan, tanyakan KOMPAK da isi kartu luka
34. Pemeriksaaan berkala 5 – 15 menit sekali ( respon, nafas, nadi, suhu kelembaban, warna kulit, penatalaksanaan
35. Evakuasi dan transportasikan korban ke RS terdekat
36. Pertolongan selesai
Catatan………
ü Untuk mata, telinga, hidung dan mulut, periksa menggunakan senter.
ü Untuk tangan dan tungkai, periksa kanan dan kiri bergantian dengan memeriksa bagian atas dan bawah.
ü Jika ada pendarahan ( Luka terbuka ), Tanya letak, warna darah, aliran, panjang, lebar dan dalam. Kemudian lakukan tekan langsung luka, tinggikan, tekan titik nadi, bersihkan, beri cairan antiseptic, balut, lalu sirkulasi, gerak, sensasi.
ü Jika ada patah tulang tertutup atau luka tertutup, tanyakan perubahan bentuk, nyeri tekan, bengkak, memer, lebam, suhu, krepitasi. Kemudian lakukan fiksasi manual, kompres, ukur bidai di tubuh yang sehat, masukan mitela lewat lubang anatomis, ikat mitela pada sendi yang paling banyak bergerak. Lalu sirkulasi, gerak, sensasi.
ü Jika ada pendarahan hebat, langsung tekan luka, tinggikan, tekan pada titik nadi, balut. Sirkulasi, gerak, sensasi.
ü Jika korban sadar, setelah respon, jika respon, tolong perkenalkan diri dan minta izin lagi, tanyakan KOMPAK ( Keluhan utama, Obat, Makanan, Penyakit, Alergi, dan Kejadian ). Setelah keluhan utama, cek fisik dulu baru tangani kasus lain.
( Note : tangani keluhan Utama terlebih dahulu dan selalu minta iin sebelum periksa / cek fisik )
Arigatou Gozaimasu, Minna-san...:D
Udah mampir di blog icha ^^
Udah mampir di blog icha ^^
Jangan lupa Kritik dan sarannya :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar